January 16, 2010

It's all about my S2

Kejarlah ilmu hingga ke Negri China”.. Kurang lebih begitulah pepatah yang sering dikatakan para orang tua kepada anak-anaknya. Memang kalo untuk urusan pendidikan, dukungan dari orang tua tidak pernah adanya matinya. Mereka akan selalu men-support anak-anaknya dalam mengejar mimpi, impian dan cita-cita. Jadi inget, waktu zaman SD, setiap ditanya mengenai cita – cita, pasti jawabannya standard.. “ Saya mau Jadi dokter, Bu”, “ Kalo Saya mau jadi Presiden, Bu”, lanjut anak SD yang lain.. Hahahaha,,, Begitu tulusnya niat mereka untuk menjadi orang yang berguna, tidak Cuma berguna untuk dirinya atau keluarganya, melainkan berguna untuk orang lain..

Berbicara mengenai pendidikan, bagiku itu hampir tidak ada ujungnya. Niat dalam hati, untuk ingin mengikuti PPAK, Ambil Brevet A+B, hingga keinginanku untuk melanjutkan S2.. Cuma, masalah yang paling klise dan justru ini merupakan hal yang paling penting adalah harga dari pendidikan itu sendiri. Bisa dikatakan, semakin lama semakin mahal saja biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapat ilmu plus gelar dari institusi pendidikan. Belum lagi ditambah biaya Buku, biaya fotocopy, biaya ongkos ke kampus hingga opportunity cost yang hilang karena kita lebih memilih kuliah dibandingkan jalan-jalan, atau lembur di kantor,, ;0. Dengan adanya seabrek biaya yang ada di depan mata, maka kebanyakan orang yang punya niat untuk sekolah lagi, saling berkompetisi untuk mencari beasiswa (salah satunya adalah gw ;0)..
Sebenarnya susah – susah gampang juga mencari dan mendapatkan beasiswa. Cuma, terkadang ada beberapa kendala yang pada akhirnya membuat kita gagal untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Belum lagi para pesaing yang berjubel, bisa membuat proposal beasiswa kita tersingkir di tengah jalan. Walaupun kita sudah berusaha keras dan berdoa siang malam, namun panggilan itu pun tak kunjung dating.. Hmmm, Kalo gw menghadapi kondisi tersebut, pasti hal pertama yg ada di pikiran adalah sedih dan kecewa berat. Namun, ada baiknya kita bisa mengambil sisi positifnya saja. Mungkin, memang beasiswa itu bukan rezeki kita..
Beasiswa tak kunjung datang, tapi S2 tetap harus lanjut dong??? So, dengan dukungan dari orang tua, gw memutuskan untuk mengambil MM UGM. Yah, sebenarnya gw berharap, nantinya di tengah perkuliahan, UGM akan memberikan beasiswa untuk mahasiswa yang berprestasi dan gw pastinya ga akan melewatkan kesempatan itu.. (Berharap sangat!!!). Oiy, berbicara mengenai mengapa gw lebih memilih UGM, bukan UI (For your information, gw lulusan S1 UI), sebenarnya lebih karena alasan waktu kuliah. UI tidak menyediakan waktu perkuliahan pada weekends, melainkan hanya pada weekdays. Sedangkan, gw lebih memilih untuk kuliah di waktu weekends dengan pertimbangan kuliah tidak akan mengganggu pekerjaan gw.. Jadi, gw bisa lebih focus untuk keduanya. Meski jadi menomorsekiankan pacar..hehehe (kalo cerita tentang pacar vs S2, di cerita yang lain ya,,,). Kalo berbicara kualitas, menurut gw, UGM juga ga kalah dengan UI (meski I am still luv UI..)
Apalagi, untuk bisa menjadi mahasiswa MM UGM, ga sembarangan lho. Calon mahasiswa harus mengikuti serangkaian Tes termasuk interview. Halahhh,,ada interviewnya segala, kaya penerimaan pegawai aja..Tapi, dari sini bisa dilihat kalo mereka tidak sembarangan memilih calon mahasiswanya.

Yah, Semoga niat baik gw ini (which is untuk kuliah lagi), diridhoi oleh ALLAH dan dilancarkan. Jadi, gw bisa cepat lulus, trus, bisa nyari kerja lain (hihihihi), trus, bisa jadi dosen (One of my dream,,hope it will come true)

Ps : Thanks Dad, for your support, luph you full ;0

0 comments:

Post a Comment